Property Sumut - Pertumbuhan property di Sumatera Utara tahun 2013, diperkirakan hanya sekitar 20 persen. Demikian dikatakan Ketua Real Estate Indonesia Sumut, Tomi Wistan. Penyebabnya, situasi yang dinilai kurang mendukung seperti kenaikan tarif dasar listrik (TDL), upah, serta mendekati Pilkada Gubernur Sumut dan Pemilu.

Tomi mengatakan, kenaikan TDL membuat harga bahan bangunan dan transportasi naik sehingga memicu kenaikan harga rumah. Kenaikan harga menambah berkurangnya kemampuan daya beli masyarakat.

Harga rumah semakin dipicu, karena upah juga naik dan kenaikan harga semakin besar lagi kalau harga lahan ikut juga naik sepeti lazimnya yang terjadi setiap tahun. Menurut dia, harga rumah tahun ini naik sekitar 20 persen bahkan lebih besar lagi kalau untuk golongan rumah mewah.

"Meski banyak tantangan, REI memperkirakan pertumbuhan permintan properti bisa naik 20 persen karena kebutuhan rumah masih sangat besar dan termasuk dijadikannya rumah itu sebagai investasi yang cukup aman dan menguntungkan," katanya.

Menurutnya, kebutuhan rumah di Sumut ada sekitar 400.000 – 500.000 per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pengembang perlu mendapat dukungan pemerintah khususnya dalam membangun rumah sederhana tapak (RST) atau rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Dengan harga jual yang sudah ditetapkan pemerintah, tentunya pengembang membutuhkan lahan murah dan izin yang tidak berbiaya tinggi dan tanpa birokrasi yang semuanya itu menambah biaya pembangunan.